Bangun Industri Manufaktur di Kantong Kemiskinan

oleh

BOJONEGORO, SB.com – Menjadi seorang petani di wilayah pinggiran hutan, tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lahan mereka bisa ditanami padi hanya pada musim penghujan, selebihnya menjadi tegalan untuk tanaman jagung, umbi-umbian, dan komoditas lainnya yang tidak memiliki nilai jual.

Persoalan inilah yang akan dicarikan solusinya oleh pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin. Pasangan yang dikenal dengan sebutan “Mulyo-Atin” ini telah menyiapkan program percepatan pembangunan industri jasa, dan manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, serta mencipatkan lapangan pekerjaan baru warga.

Sementara itu, bagi Puguh Pujianto (30), warga Desa Bubulan, Kecamatan Bubulan, menjadi petani bukan impiannya selama ini. Bertani merupakan pekerjaan berat dan butuh tenaga besar, juga modal banyak dari musim tanam hingga panen.

“Saya bukan dari keluarga petani, hanya saja sudah tahu keseharian para petani karena banyak sawah di sini,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (19/5/2018).

Mayoritas pemuda seangkatannya memilih bekerja di luar daerah bahkan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, untuk mendapatkan gaji besar. Sedangkan menjadi petani penghasilannya empat bulan sekali saat masa panen.

“Itupun kalau untung,” ucapnya.

Selama ini petani Bubulan tidak hanya mengandalkan komoditas padi, tapi juga kacang tanah, kedelai, dan juga jagung, tergantung musim.

“Kalau hasil panen, setahu saya langsung dijual,” tegasnya.

Oleh karena itu, pria yang pernah bekerja di proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu itu mengaku, sangat setuju jika kedepan ada industri manufaktur berupa pabrik pengolahan hasil pertanian. Industri tersebut dipastikan akan membuka peluang jasa dan penyerapan tenaga kerja.

Juga membantu petani karena hasil panen tiap tahun dipastikan tidak akan sia-sia, meski harga gabah anjlok namun dengan adanya pabrik tersebut secara tidak langsung meningkatkan nilai jual.

“Misalnya harga gabah anjlok, para petani tidak usah menjualnya berupa gabah. Tapi diolah menjadi tepung, itu lebih meningkat harganya,” tandasnya.

Pihaknya berharap, bupati terpilih mendatang bisa menciptakan peluang pekerjaan bagi pemuda sepertinya melalui pabrik pengolahan hasil pertanian di Desa Bubulan. Banyak sekali hasil pertanian yang bisa diolah menjadi berbagai macam bahan baku makanan.

“Selain membantu para petani, juga membuka lapangan pekerjaan,” tandasnya.

Pemuda pinggiran hutan lainnya, Wahono (35), Warga Desa Bobol, Kecamatan Sekar, mengaku, belum ada niat untuk menjadi petani meski di wilayahnya sebagian besar merupakan sektor pertanian.

“Saya jadi buruh kasar, kadang ikut bikin kerajinan kayu milik orang,” sambungnya dikonfirmasi terpisah.

Menurutnya, menjadi petani tidak bisa memberikan jaminan hidup layak karena pendapatannya tidak menentu. Kecuali jika memiliki sawah yang luas dan modal yang besar.

“Cari kerja yang ada upahnya tiap hari atau tiap bulan saja,” tandasnya.

Selama ini belum ada pabrik pengolahan hasil pertanian berskala besar. Yang ada hanya home industri pengolahan hasil pertanian berupa keripik singkong, keripik pisang, dan keripik tempe.

“Inipun pekerjanya sedikit sekali, kalau dibuat besar pasti juga membuka lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Pihaknya berharap, bupati terpilih mendatang memberikan peluang pekerjaan melalui pengembangan industri manufaktur yang sudah ada di Desa Bobol. Dengan memberikan pendampingan dan pelatihan bagi para pemuda sekitar.

“Bisa dibesarkan lagi industri pengolahan hasil pertanian di sini, dibantu pelatihan dan pemasaran pasti akan tumbuh pesat,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, percepatan pembangunan industri manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomis komoditas pertanian ini telah menjadi salah satu program prioritasnya kedepan. Program ini akan diselerasakan dengan pengoptimalan sektor pertanian dengan percepatan pembangunan Waduk Gongseng, beserta jaringan sarana irigasi persawahan khususnya di wilayah selatan Bojonegoro, dan pemberian jaminan ketersediaan pupuk bagi petani.

“Dengan begitu produksi pertanian di wilayah selatan bisa meningkat dan dapat menopang industri ini,” tegas Pak Mul, sapaan akrabnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga akan memberikan pelatihan keterampilan kepada pemuda agar terlibat dalam industri tersebut.

“Ini akan mempercepat mengurangi pengangguran, dan kemiskinan utamanya wilayah pinggiran hutan yang selama ini menjadi kantong kemiskinan,” pungkas mantan Sekda yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab Bojonegoro ini. [*/yud]