Karang Taruna Setuju di Bojonegoro Ada Industri Manufaktur

oleh

BOJONEGORO, SB.com – Sekalipun telah menjadi pekerjaan turun temurun, minat pemuda Bojonegoro untuk bekerja di bidang pertanian sangat minim. Sektor ini dianggap tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Problema inilah yang ditangkap pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, menyiapkan terobosan baru agar nilai ekonomi komoditas pertanian Bojonegoro meningkat. Yakni dengan mempercepat pembangunan industri jasa, dan manufaktur untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menekan pengangguran.

Anggota Karang Taruna Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, Arifin, (32), mengatakan, sektor pertanian bukan tujuan utama pemuda setempat untuk dijadikan mata pencaharian.

“Alasannya banyak sekali,” katanya kepada wartawan, Kamis (17/5/2018).

Diantaranya menjadi petani tidak bisa memberikan jaminan hidup yang lebih baik, disaat mengalami gagal panen baik ketika musibah alam seperti kekeringan, banjir, maupun serangan hama.

“Kalau sudah gagal panen, akan rugi dan tentu tidak menghasilkan apa-apa,” ucapnya.

Sementara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari harus ada penghasilan yang jelas dan pasti. Kebanyakan para pemuda memilih bekerja di luar Bojonegoro bahkan ada yang menganggur.

“Memang seperti itu kondisinya,” tutur pemuda yang bekerja di bengkel ini.

Oleh karena itu, dia sangat setuju jika di Bojonegoro dibangun industri manufaktur berupa pengolahan hasil pertanian, karena akan memberikan peluang pekerjaan dan usaha bagi masyarakat terutama pemudanya.

“Industri itu pasti membuka banyak peluang kerja, dan bisa menekan pengangguran,” tegasnya.

Serupa disampaikan anggota Karang Taruna Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Burhan (35). Sedikit sekali di wilayahnya tenaga dari generasi muda yang bekerja di sektor pertanian.

“Perbandingannya 80 persen kerja di kota, sisanya di desa jadi petani,” sambungnya ditemui terpisah.

Selama ini pola pikir pemuda Wedi masih menganggap pertanian adalah pekerjaan yang primitif, kotor, kurang bisa diandalkan. Berbeda dengan kerja di kota, dengan kondisi bersih dan dapat gaji pasti tiap bulan.

Menurutnya, dengan adanya industri manufaktur dipastikan dapat menyerap tenaga kerja lokal, utamanya para pemuda yang kebanyakan belum bekerja.

“Pasti akan membuka peluang kerja. Apalagi di sini penghasil salak dan Padi,” tandasnya.

Kedua pemuda ini berharap, Pemkab kedepan bisa memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada para pemuda jika akan membangun industri manufaktur.

“Agar kami juga siap untuk terlibat langsung,” pungkasnya.

Dimintai tanggapannya, salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menyatakan, percepatan pembangunan industri manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomis komoditas pertanian ini telah menjadi salah satu program prioritasnya kedepan. Pertanian Bojonegoro merupakan potensi menjanjikan yang bisa ditawarkan kepada investor untuk membangun industri tersebut.

“Sudah banyak investor yang ingin mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di sini,” tegas Pak Mul, sapaan akrabnya.

Untuk mendukung itu, lanjut dia, pihaknya akan mengoptimalkan sektor pertanian dengan melakukan percepatan pembangunan Waduk Gongseng, beserta jaringan sarana irigasi persawahan khususnya di wilayah selatan Bojonegoro, dan pemberian jaminan ketersediaan pupuk bagi petani. Selain itu juga mempermudah perizinan investasi dan usaha bisnis dengan waktu satu jam selesai, dan dukungan pembangunan infrastuktur jalan di seluruh desa berbahan cor beton.

“Kita juga akan memberikan pelatihan keterampilan kepada pemuda agar terlibat dalam industri ini, untuk bersinergi membangun Bojonegoro lebih tangguh,” pungkas mantan Sekda yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab Bojonegoro ini. [lis]