Cerita Program Biogas, Kemajuan Usaha dan Lapangan Pekerjaan

oleh

Kehadiran Program Biogas tidak hanya mampu mendukung usaha Endang. Tetapi juga mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi orang-orang disekelilingnya.

 

SUARABOJONEGORO.COM – Endang, warga Dusun Sumurpandan, Desa Gayam Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur memulai usaha kateringnya sejak tahun 2009.

Dengan keterbatasan tenaga, kala itu, dan beban biaya pembelian LPG sebanyak rata-rata tiga tabung per bulan untuk keperluan memasak pesanannya.

Ia hanya mampu melayani pembuatan makanan ringan dalam jumlah kecil. Lima tahun kemudian, program Biogas diperkenalkan di desanya, difasilitasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan Trukajaya.

Dengan mempertimbangkan pengembangan usahanya, Endang mendaftarkan diri untuk ikut datam proyek percontohan. Ia pun terpilih karena telah memenuhi persyaratan dasar program ini, yaitu memiliki dua ekor sapi yang tidak akan dijual dan kandang sapi yang berlantai semen.

Keputusan Endang untuk bergabung dengan tiga tetangganya pada program Biogas pada tahun 2014, kini telah membuahkan hasil nyata. Pemakaian Biogas yang bebas biaya, membuatnya mampu mengalokasikan dana pehbelian LPG untuk membeli bahan-bahan pembuatan makanan untuk usahanya.

Bahkan, ia mampu menambah jenis makanan ringan yang diproduksi. Endang kini mampu menerima pesanan hingga 2. 500 kotak makanan ringan setiap bulannya.

Dengan jumlah pesanan yang besar ini, Endang pun merekrut empat orang tetangganya untuk membantunya.

Program Biogas merupakan bagian dari komitmen ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dalam mempromosikan pemakaian energi alternatif yang terbarukan.

Bekerjasama dengan Yayasan Trukajaya, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang telah berpengalaman dalam pengembangan program Biogas bagi masyarakat melalui pemanfaatan kotoran ternak.

Melalui program ini, EMCL telah membangun 176 reaktor Biogas di enam desa di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Endang mengatakan, program Biogas telah mengubah hidupnya. Kini usahanya semakin maju.

“Karena pasokan gas yang cuma-cuma saya dapat menciptakan lapangan kerja untuk orang lain, dan saat listrik padam pun saya masih memiliki cadangan penerangan di runnah,” katanya kepada suarabojonegoro.com beberapa hari lalu.

Selain itu, sejak 201 7, Endang memperoleh ketrampilan baru dalam memanfaatkan sluri (ampas kotoran sapi sisa biogas) sebagai pupuk kandang bagi sawahnya.

“Dengan sluri, saya pun bisa menghemat pembelian pupuk hingga sebesar 400. 000 rupiah,” ucap endang sembari tersenyum.

Ia sangat berterimakasih kepada ExxonMobil yang telah memperkenalkan program Biogas. “Tidak hanya usaha saya jadi lebih menguntungkan, tetapi saya pun dapat menciptakan lapangan pekerjaan,” tutup Endang. (lis)