Pedagang Kecil Ingin Dapat Program Bedah Rumah

oleh

SUARABOJONEGORO.COM  – Pendapatan rendah menjadi penyebab utama warga miskin di Bojonegoro belum mampu merenovasi rumahnya secara mandiri. Mereka lebih memilih mengutamakan mencukupi kebutuhan makan sehari-hari daripada memperbaiki tempat tinggalnya karena pendapatan pas-pasan.

Realita inilah yang ditangkap pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk menggulirkan program bedah rumah. Pasangan yang dikenal dengan sebutan “Mulyo-Atine” ini, akan merenovasi rumah warga miskin agar menjadi tempat tinggal yang layak ditempati.

Tinggal sendiri di rumah sempit, berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah telah dijalani Khoiru, (61), sejak tahun 2000 silam. Janda tua asal Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, ini mengaku tetap bersyukur bisa memiliki tempat tinggal sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan.

Mbah Khoiru, sapaan akrabnya, setiap hari berjualan aneka buah-buahan yang dibeli dari tetangganya untuk dijual lagi di Pasar Kota Bojonegoro. Laba yang diperolehnya tidak menentu.

“Kadang Rp20.000, kadang juga Rp30.000. Kalau dagangan habis ya bisa sampai Rp50.000,” katanya kepada wartawan, Kamis (3/5/2018).

Pendapatan yang diperolehnya dari berjualan sekadar cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan merenovasi rumah agar lebih layak huni sampai sekarang hanya diangan-angan.

“Tapi saya bersyukur masih memiliki rumah, meskipun tanahnya ini hasil kerja keras almarhum suami saya,” ucapnya.

Diakui, selama ini belum ada yang menawarkan bantuan bedah rumah atau rehabilitasi baik dari Pemkab Bojonegoro maupun yang lainnya. Rumah yang dia tempati kondisinya seadanya.

“Kalau mau diperbaiki saya senang sekali,” imbuhnya dengan logat Jawa.

Dia berharap, bupati terpilih mendatang benar-benar memberikan bantuan bedah rumahnya. Selain bisa lebih layak, juga nyaman saat ditempati.

Senada disampaikan, Murtiningsih (35). Warga Desa Kabunan, Kecamatan Balen, mengaku, untuk melakukan perbaikan rumah harus menabung bertahun-tahun lebih dulu. Rumah yang ditinggali berukuran kecil, lantainya masih berupa tanah dan dindingnya terbuat dari papan kayu.

“Untuk merenovasi pasti mahal biayanya,” sambung wanita penjual es cendol ini ditemui terpisah.

Belum ada bantuan dari pihak manapun untuk memperbaiki rumahnya. Selain malu untuk meminta bantuan, menurut dia, masih banyak warga lainnya yang memiliki kondisi rumah yang sama.

“Mau minta bantuan itu malu, ya gimana. Kalau ditolak pasti nanti malah tidak enak hati,” tuturnya pelan.

Namun demikian, ibu dua anak ini mengaku sangat setuju jika ada program bantuan bedah rumah. Agar rumah seperti miliknya tidak lagi berlantai tanah dan punya kamar mandi yang bersih.

“Inginnya begitu,” tandasnya.

Dia berharap, bupati terpilih mendatang turun langsung ke masyarakat untuk mengetahui kondisi rumah-rumah yang tidak layak huni, sehingga benar-benar tergerak hatinya untuk memberikan program gratis bedah rumah.

“Semoga saja bisa terwujud,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, program bedah rumah yang akan dilaksanakan ini merupakan upaya untuk meringankan beban warga miskin untuk memiliki rumah layak huni.

“Dengan memiliki rumah yang layak huni secara tidak langsung derajat kesehatan mereka akan meningkat,” tegas cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini. (lis*)