Politik Telanjang Dada

oleh
Ilustrasi/detikcom

SUARABOJONEGORO.COM – Wuhan, 16 Juli 1966. Mao Tse Tung tidak sekedar menampilkan dadanya yang telanjang; ia berenang di Sungai Yang Tse Kiang, dan diikuti 5.000 perenang yang mengeluk-elukan namanya. Salah satu media, Peking Review, 29 Juli 1966 mewartakan seperti ini, “Ketua Mao ada di sungai selama 65 menit dan berenang hampir 15 kilometer, rakyat turut bergembira dan berkata pemimpin kami sangat sehat dan kuat. Ini adalah semacam kegembiraan bagi seluruh Rakyat Tiongkok dan seluruh rakyat revolusioner sedunia.”

Peristiwa tersebut meniupkan pesan politik dalam teater kekuasaan Tiongkok yaitu Mao Tse Tung masih berkuasa, sehat, berkharisma, dan sanggup memobilisasi massa. Saat itu memang Mao Tse Tung sedang dipreteli kekuasaannya oleh kelompok yang disebut sebagai kaum reaksioner, salah satunya Liu Shaoqi. Liu dianggap representasi kaum borjuasi yang menjauhkan Tiongkok dari elan vital Revolusi Tiongkok. Mao Tse Tung yang kehilangan kekuasaan di struktur negara mulai melihat potensi massa anak muda sebagai penyedia jalan ke pucuk pimpinan Tiongkok. Kelak anak muda ini diformat Mao Tse Tung sebagai pengawal merah yang menjadi pemain penting dalam Revolusi Kebudayaan Tiongkok 1966-1976. Target utama revolusi ini sangat jelas: Liu Shaoqi dan apapun yang dianggap berseberangan dengan Mao Tse Tung.

Citra pemimpin sehat dan kuat dihasilkan, dan diterima khalayak ramai melalui publikasi pose pimpinan yang telanjang dada atau kegiatan olahraga. Implikasinya adalah pesan politik. Saat ini, tampaknya, hanya Presiden Rusia Vladimir Putin yang sadar dengan produksi citra pemimpin sehat dan kuat. Vladimir Putin seperti perpaduan antara kekuatan dan kelembutan seorang pemimpin. Kekuatan ini ditampilkan dalam parade maskulinitas, mulai dari menunggang kuda, berenang di sungai, bertarung dengan atlet judo, mengendarai mobil Formula 1, hingga berburu di hutan. Sementara, kelembutan banyak ditampilkan dengan pose dirinya yang sedang memberi makan anak macam di kebun binatang, atau berinteraksi dengan anak kecil.

Bagi warga Rusia, Putin sedang memberikan napas optimisme setelah keruntuhan Uni Soviet bahwa negara kita akan terus menggapai kejayaannya berkat pemimpin sehat, macho, dan gemar kegiatan maskulin. Di aras global, citra Putin memberitahukan warga dunia bahwa Russia siap bermain dalam percaturan global. Walhasil, sekarang Russia diperhitungkan sebagai pesaing utama Amerika Serikat bersama sekutunya mulai dari politik, ekonomi, kebudayaan, hingga persoalan citra pemimpin.

***

Persoalannya, dalam sejarah politik Indonesia, saya tidak menemukan sama sekali korelasi antara publikasi telanjang dada seorang tokoh politik dengan kompetensi dalam memimpin negara. Saya ambil dua ikon terpenting dalam politik Indonesia yaitu Bung Karno dan Soeharto –masing-masing perwakilan dari dua zaman, Orde Lama dan Orde Baru. Secara ringkas ditemukan bahwa kompetensi kepemimpinan dibentuk melalui upaya menjembatani relasi negara-masyarakat.

Saya mulai dari Bung Karno. Satu-satunya momen telanjang dada saat ia sedang naik haji tahun 1955, terlihat sang Proklamator sedang bersantai dengan kain ihram (pakaian ibadah haji ) di sebuah tenda. Untuk urusan citra di media, Bung Karno lebih banyak menampilkan dirinya sebagai sosok penggali ideologi, orator, dan Penyambung Lidah Rakyat. Tentu kita ingat salah satu produk intelektual yang digali Bung Karno, yaitu Pancasila dan Marhaenisme.

Ketika berhadapan dengan massa rakyat, Bung Karno yang datang dari kalangan terpelajar memiliki gaya komunikasi yang unik hingga bisa ditangkap oleh mereka yang disebut sebagai wong cilik, kaum kromo, dan kaum marhaen. Keahlian dalam orasi ini tidak hanya dibangun melalui jari telunjuk yang ekspresif mengutuk neo-kolonialisme saja, namun upaya membangunkan massa rakyat demi cita-cita revolusi yang belum selesai.

Berikutnya, Soeharto. Saya pikir seganas-ganasnya mesin kekuasaan Sang Jenderal tidak pernah sekalipun ia menampilkan foto bertelanjang dada. Ia bahkan memberikan kategori unik dalam unsur militer yang melekat dalam dirinya, yaitu Jenderal Murah Senyum dan Anak Desa sebagaimana biografi karangan O.G Roeder (1976). Kategori ini seperti adonan pertunjukan antara unsur kekuatan militer yang siap membereskan pengacau negara, dan kelembutan seorang Bapak yang mengayomi rakyatnya.

Terus terang, saya justru paling bergidik ketika melihat foto Soeharto tersenyum daripada memakai pakaian militer atau memegang senjata. Apalagi jika sampai Soeharto berbicara ke media dengan pilihan kata ditertibkan, digebuk, diamankan; bisa dibayangkan betapa menyeramkannya politik stabilitas Orde Baru. Toh, pada akhirnya Soeharto masih hidup di memori bangsa Indonesia sebab dianggap berhasil membuat negeri yang aman, meski ditebus dengan sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia.

***

Tentu sangat janggal jika tahun politik ini, ada jenis kegiatan menghidupkan kembali dua hal idealisasi simbol kepemimpinan yaitu berapi-api dalam orasi, mengendarai kuda, yang kesemuanya mencerminkan politik machoisme dan mitos kehebatan dalam mengurusi persoalan negara. Sementara, di sisi lain dibenturkan dengan pernyataan aneh berupa “pemimpin plonga-plongo” yang selalu diidentikkan tidak becus mengurus negara. Dua simbol ini selalu direproduksi dalam perdebatan politik pasca Pemilihan Presiden 2014.

Persoalannya, apakah jika pemimpin itu kuat secara fisik akan menghasilkan kebijakan publik yang baik? Tampaknya belum tentu. Dan, sungguh tidak elok jika dinamika politik Indonesia direduksi pada hal-hal simbolik yang sebetulnya tidak penting. Publik akan digiring untuk memperdebatkan istilah ganjil “pemimpin kuat vs pemimpin plonga-plongo” daripada menilai kepemimpinan berdasar kualitas kebijakan publik yang ditawarkan. (*)

Penulis : Haryo Kunto Wibisono peminat kajian antropologi

*Sumber: detik.com