Kaum Wanita Minta Pelatihan Ketrampilan dari MulyoAtine Diwujudkan

oleh
FOTO: Calon Wakil Bupati Bojonegoro, Mitroatin (kerudung kuning) saat bersama ibu-ibu Bojonegoro.

SUARABOJONEGORO.COM – Program pengembangan keterampilan soft skill berbasis teknologi informasi (TI) dengan memanfaatkan sumber daya lokal dari pasangan Cabup dan Cawabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, dinilai bagus dan strategis oleh kalangan perempuan.

Kaum ibu menganggap program gratis untuk warga yang belum bekerja tersebut, sama halnya memberi peluang usaha baru. Termasuk juga bakal merubah ekonomi warga semakin baik lagi.

Selama ini mayoritas perempuan usia produktif di wilayah Bojonegoro, belum memiliki keterampilan mengelola potensi sumber daya lokal menjadi usaha. Munculnya program yang digagas pasangan berlabel Mulyo-Atine ini, sebagai fenomena baru di kalangan perempuan.

Seperti di Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Bojonegoro. Sekalipun berada di wilayah perkotaan, masih banyak perempuan berusia produktif  yang belum memiliki keterampilan dalam membuat karya seni. Padahal, dengan keterampilan tersebut mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah meski dijalankan di rumah.

Anggota PKK setempat, Fitri Setyowanti, menyampaikan, sudah seharusnya perempuan produktif berhak memiliki keterampilan. Hanya saja, selama ini belum ada pelatihan atau pendampingan yang berkala dari pemerintah setempat.

“Saya sendiri sangat ingin membantu mereka belajar keterampilan merajut, supaya bisa menghasilkan produk bernilai tinggi,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (11/4/2018).

Ibu satu anak itu sudah menggeluti dunia rajut merajut sejak tiga tahun lalu secara otodidak. Keterampilan ini sangat potensi dikembangan di wilayah perkotaan mengingat masyarakatnya memiliki sifat konsumtif tinggi.

“Tas rajut saya ini banyak sekali peminatnya, satu bulan bisa menjual sekitar lima sampai sepuluh tas rajut,” tukasnya.

Seandainya perempuan di Kelurahan Mojokampung mendapatkan pelatihan, maka, kebutuhan tenaga kerja untuk usahanya tersebut bisa terpenuhi serta mampu memenuhi pesanan yang jumlahnya sangat banyak.

“Untuk sementara ya semampu saya buat rajutan, karena tidak ada yang membantu,” ucap Fitri, sapaan akrabnya.

Jika nantinya kaum perempuan di kelurahannya mendapatkan pelatihan merajut, maka banyak sekali produk yang bisa dibuat selain tas. Misalnya, dompet rajut, boneka rajut, dan lain sebagainya.

“Dengan keterampilan yang dimiliki, maka akan meningkatkan pendapatan,” tandasnya.

Sementara itu, anggota PKK Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Endang Iswanti, mengaku, di wilayahnya sudah pernah ada pelatihan untuk meningkatkan keterampilan warga sekitar. Hanya saja pelatihan yang diberikan tidak bertahap dan hanya sekali saja.

Menurut istri Sekretaris Desa Ngampel ini, banyak peluang usaha di desa penghasil migas ini yang bisa dikembangkan. Diantaranya pengolahan bahan makanan dari waluh, membuat sepatu, daur ulang sampah, dan keripik tempe.

“Dari semua potensi itu, yang eksis sekarang ini hanya usaha keripik tempe di RT empat. Itupun hanya tiga orang saja yang menjalankan,” sambung Endang, sapaan akrabnya dikonfirmasi terpisah.

Untuk mengembangkan potensi sumber daya local ini dibutuhkan pelatihan, dan pendampingan berkala untuk meningkatkan keterampilan warga terutama bagi kaum perempuan. Karena, dengan keterampilan tersebut bisa mengubah sifat konsumtif menjadi produktif dan ikut memajukan desa.

“Banyak peluang usaha yang tidak dimanfaatkan, karena selain keterampilan terbatas juga tidak ada modal,” lanjutnya.

Karena itu, baik Fitri maupun Endang sangat mendukung jika kedepan ada program pengembangan keterampilan soft skill berbasis TI dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara gratis bagi warga yang belum bekerja. Sehingga, kaum perempuan bisa mengelola bisnis rumahan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

“Saya berharap, bupati terpilih nanti bisa mewujudkan itu. Sehingga perempuan disini bisa mencari pendapatan sendiri di rumah,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Cawabup Mitroatin, menyatakan, kedepan bersama Cabup Soehadi Moeljono, akan memberikan pelatihan keterampilan kepada warga utamanya yang belum bekerja, agar mampu memanfaatkan sumber daya lokal menjadi usaha yang bisa menyerap lapangan pekerjaan dan meningkatkan ekonominya.

Untuk mendukung usaha tersebut, lanjut Bu Mit, sapaan akrab Mitroatin, akan membantu akses permodalan, dan pasar agar dapat berkembang pesat.

“Kita juga memiliki program industri rumahan untuk Ibu-ibu. Dengan program ini, ibu-ibu bisa memperoleh tambahan pendapatan untuk menopang ekonomi keluarga. Sehingga kesejahteraan masyarakat yang kita cita-citakan bersama bisa terwujud,” pungkas mantan Ketua DPRD Bojonegoro ini. (*/red)