Industri Olahan Hasil Pertanian Tingkatkan Ekonomi

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Jebloknya harga ketela pohon setiap panen raya di kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilo gram (Kg), menjadikan petani Bojonegoro enggan menanam singkong. Harga ini dinilai tak menguntungkan, dan tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-sehari.

Persoalan inilah yang menggugah pasangan Cabup dan Cawabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, menyiapkan program pengoptimalan industri pertanian mulai hulu hingga hilir. Untuk mendukung itu, pasangan nomor 1 yang akrab disebut warga Mulyo-Atine, itu akan memberikan pelatihan keterampilan pengolahan hasil produk pertanian, akses permodalan hingga pemasaran.

Supono (45), petani Desa Cancung, Kecamatan Bubulan, mengaku, ladang miliknya belum ditanami ketela pohon. Tanam ketela akan dilakukan saat musim kemarau.

“Saya biarkan dulu. Masih ada hujan meskipun jarang,” katanya kepada wartawan, Jumat (6/4/2018).

Menanam ketela, menurutnya, tidak bisa diandalkan. Petani hanya mendapatkan untung pas-pasan. Terlebih jika harga di pasaran turun, hasil panen tidak dijual.

“Kalau turunnya banyak dikonsumsi sendiri, dibuat gaplek,” jelas petani pinggiran hutan ini.

Saat panen raya harga ketela pohon bervariatif. Jika kualitasnya bagus bisa terjual seharga Rp1.500 sampai Rp1.700 per Kg. Hasil panen itu dijual ke pedagang yang sudah menjadi pelangganan.

“Pernah malah dibeli Rp700 per kilogramnya, katanya kualitasnya jelek,” ungkapnya.

Dia mengaku, selama ini belum ada bantuan dari Pemkab Bojonegoro bagi petani singkong. Perhatian pemerintah hanya diutamakan kepada petani padi, bukan petani palawija.

Oke karena itu, dirinya sangat setuju jika ada rencana pengolahan hasil produksi pertanian. Karena akan meningkatkan harga jual dan merangsang petani untuk menanam singkong.

“Kalau ada pengolahan hasil produksi ya pasti ketela pohon dari petani akan laku keras. Selain itu petani tetap juga masih dapat pemasukan saat musim kemarau. Lahan yang biasanya tidak ditanami, akan ditanami,” imbuhnya,

Senada disampaikan Kusbintoro (65), petani asal Desa Temayang, Kecamatan Temayang. Dia mengaku, dari pengalaman sebelumnya, harga ketela pohon setiap panen rata-rata antara Rp1.000-1.500 per Kg.

“Tergantung pasar,” imbuhnya.

Hasil panen tersebut dijual kelanggannya di wilayah sekitar Temayang, dan pasar-pasar desa. Setiap panen, Kusbintoro mengaku mendapat lima karung. Setiap karungnya seberat 1 Kuintal lebih.

Namun dari hasil panen tersebut belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga, untuk menutup kebutuhan lainnya, dia bekerja serabutan.

“Ya kalau sekarang ditanami kacang dulu, ikut musim,” tandas petani di wilayah selatan Bojonegoro ini.

Diakui, selama menjadi petani belum pernah mendapatkan bantuan sama sekali dari pemerintah setempat.

“Kalau ada pengolahan hasil produksi, senang sekali. Itu akan sangat membantu para petani di sini,” lanjutnya.

Dia berharap, bupati mendatang bisa turun langsung ke lapangan, dan menyerap aspirasi petani kecil sepertinya. Sehingga memahami betul kondisi petani saat panen tiba.

“Semoga saja, ada program itu, jadi ada nilai tambah dari ketela pohon meski bukan komoditas utama,” pungkasnya.

Data dari Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro, produksi ubi kayu tahun 2016 sebanyak 65.020 ton dari luas panen 3.215 hektar (Ha), dan tahun 2017 sebanyak 115.072 ton dari luas tanam 3.271 Ha.

“Selama dua tahun ini ada skema bantuan untuk petani singkong. Namun karena anggarannya terbatas, bantuan itu sekarang tidak ada lagi,” jelas Kepala Bidang Produksi Disperta, Zaenal Fanani, dikonfirmasi terpisah.

Dimintai tanggapannya, Cabup Soehadi Moeljono, mengakui jika produksi singkong belum bisa diandalkan oleh mayoritas petani di kawasan hutan. Hal ini dikarenakan belum adanya industri pengolahan untuk produksi tersebut.

“Padahal singkong ini kalau diolah secara optimal bisa menghasilkan bermacam-macam produk olahan yang bisa membuka lapangan usaha dan kerja bagi warga,” tegasnya.

Karena itu, lanjut mantan Sekda Bojonegoro ini, kedepan pihaknya akan menumbuhkan industri pengolahan hasil pertanian. Dengan memberikan keterampilan, kemudahan akses permodalan dan pemasaran. Sehingga dapat menyerap produksi dan mengangkat jualnya.

“Ini akan memberikan nilai tambah ekonomi kepada petani. Terutama saat musim kemarau mereka masih bisa memanfaatkan lahannya karena ada jaminan hasil produksinya dibeli untuk diolah,” pungkas cabup yang berpasangan dengan Kader, NU ini. (*/red)