Segera Dikembangkan Industri Olahan Hasil Pertanian

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Sektor pertanian bakal digarap serius oleh pasangan Cabup dan Cawabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin. Mereka menawarkan program pengembangan ekonomi kreatif pengolahan hasil pertanian.

Skemanya petani akan diberi pelatihan ketrampilan pengolahan hasil pertanian, dan membukakan akses permodalan. Termasuk juga membantu pemasaran produk olahan.

Program dari pasangan yang dikenal warga dengan sebutan Mulyo Atine ini, mendapat sambutan positif dari warga. Apalagi warga yang selama ini telah menggeluti usaha industri pengolahan.

Jika ada program seperti itu, menurut perajin Tortila dari Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk, Tri Untari, akan mampu meningkatkan harga jual produksi pertanian di tingkat petani. Ada model pengembangan usaha hingga membuka lapangan kerja baru.

Usaha pengolahan jagung jadi camilan miliknya saat ini, melibatkan empat tenaga kerja dari tetangga sekitar.

Dia mulai merintis usaha Tortilla sejak 2001 silam. Di tangan Mbak Untari-sapaan akrabnya, jagung dapat diolah menjadi camilan berbentuk bulat, tipis, dan lebar yang kemudian dikembangkan menjadi produk olahan kering berbentuk chips.

“Awalnya modal Rp150.000 sama alat manualnya saja untuk produksi,” katanya kepada wartawan, Selasa (3/4/2018).

Dia membuka usaha Tortila setelah ada penelitian di desanya, tentang pengolahan produk makanan berbahan baku jagung.

“Kebetulan, di sekitar sini, sebagian besar masyarakatnya bertanam jagung,” tukas ibu satu putra ini.

Lambat laun usaha yang dirintis Mbak Untari mulai berkembang. Setiap hari memproduksi 50 Kilogram jagung, untuk diolah jadi Tortilla yang dikemas dengan berat 160 gram.

“Bisa sampai 300 bungkus lebih, tapi setiap hari ada pesanan baik perorangan, supermarket, toko, dan lainnya,” ungkapnya.

Tortila dari desa ini telah menembus pasar hingga luar daerah. Diantaranya; Tuban, Lamongan, Cepu, Blora hingga Gresik.

Kendala yang dihadapi yakni pada keterbatasan keterampilan tenaga kerja yang dimiliki. Karena, tidak semua orang yang direkrut bisa mengolah Tortilla dengan benar. Inilah yang membuatnya tidak bisa mengembangkan lebih besar lagi usaha tersebut.

“Selain itu, kualitas bahan baku yang mempengaruhi rasa Tortilla itu sendiri,” tandasnya.

Diakui, selama ini hanya sekali mendapatkan bantuan pinjaman Rp10 juta dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (sekarang menjadi Dinas Perdagangan). Setelah itu dia tidak bisa melakukan pinjaman lagi.

“Kalau bantuan alat juga pernah, sekali dari pemerintah provinsi,” tegasnya.

Diharapkan  Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kedepan bisa meningkatkan kualitas dan mutu para pekerja melalui pelatihan keterampilan berwirausaha termasuk pengolahan Tortilla. Selain itu, juga peningkatan kapasitas petani jagung  supaya hasil panen memiliki kualitas bagus.

“Harapan saya itu, semoga ada pelatihan, bantuan alat atau modal, dan dari sisi pertanian juga didukung,” pungkasnya.

Senada disampaikan Yuliati, perajin marning asal Desa Ngrejeng, Kecamatan Purwosari. Dia mengaku sudah puluhan tahun memproduksi makanan kecil tersebut. Namun usahanya belum dapat berkembangan karena hingga saat ini belum ada pelatihan, dan pendampingan dari manapun.

“Ya sementara ini bisanya cuma mengolah marning saja,” sambung ibu tiga putra secara terpisah.

Selama ini, bahan baku yang dia dapatkan berasal dari petani setempat dengan harga Rp3.500 per kilogramnya. Untuk memproduksi camilan ini dibutuhkan 6 Kg jagung setiap harinya, dan bisa menghasilkan 200 bungkus marning.

“Hasilnya ya lumayan, untuk menambah penghasilan suami,” tuturnya.

Dirinya berharap, dengan terpilihnya bupati mendatang bisa mengubah nasib masyarakat kecil yang memiliki niat berwirausaha seperti dirinya. Yakni dengan memberikan bantuan peralatan lengkap seperti wajan, kompor, dan alat pelengket plastik karena selama ini masih menggunakan ublik (lampu dari minyak tanah).

“Impian saya, bisa mematenkan produk marning, dan punya tenaga kerja karena selama puluhan tahun cuma saya dan suami yang mengolah marning ini,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljo, menyatakan, kedepan telah menyiapkan program ekonomi kreatif agar hasil produksi pertanian dapat diolah mulai hulu hingga hilir. Selain dapat meningkatkan harga jual produksi pertanian, juga bisa membuka lapangan usaha dan kerja baru.

“Dengan begitu nantinya masyarakat tidak hanya tergantung dengan migas, tapi lebih bisa memaksimalkan potensi yang ada untuk meningkat perekonomian mereka menjadi lebih tangguh,” tegas mantan Sekda Bojonegoro ini.

Selain itu, Pak Mul, sapaan akrabnya, juga akan memberikan pendampingan dan pelatihan, bantu akses permodalan hingga pemasaran agar produksi olahan pertanian ini bisa berkembang. (*/red)