Sarjana Dari Desa Pinggir Hutan Masih Minim

oleh
FOTO: Calon Bupati Bojonegoro, Soehadi Moeljono.

SUARABOJONEGORO.COM – Jumlah lulusan sarjana di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, utamanya di wilayah pinggiran masih minim. Sebagian banyak hanya lulusan setingkat SMP, dan mentok setingkat SMA. Orang tua dari desa tepian hutan tersebut tidak menguliahkan anaknya karena terbentur biaya.

Di desa Bubulan, Kecamatan Bubulan, misalnya. Setiap tahun anak lulusan setingkat SMA di desa pinggiran hutan ini jarang yang melanjutkan ke bangku kuliah.

“Kalaupun ada, cuma satu atau dua orang saja yang orang tuanya bekerja sebagai pegawai,” kata Sekretaris Desa Bubulan, Supriadi, kepada wartawan, Kamis (29/3/2018).

Rata-rata, warganya selama tiga tahun terakhir merupakan lulusan SMA. Ini dikarenakan, kebanyakan orang tua siswa tidak memiliki biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Kebanyakan di sini setelah lulus SMA yang laki-lakinya keluar Jawa, yang wanita jadi Tenaga Kerja Indonesia atau TKI,” imbuhnya.

Menurutnya, pendidikan kuliah untuk menyandang gelar sarjana sangatlah penting. Selain meningkatkan pendidikan yang dimiliki tiap personal, juga sebagai modal untuk mencari kerja yang lebih baik.

“Paling tidak, dengan menyandang gelar sarjana akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” tandasnya.

Dirinya mengaku setuju jika ada program satu desa, satu sarjana dari pemerintah kabupaten mendatang, karena bisa meringankan beban para orang tua yang rata-rata hanya sebagai petani dan buruh tani.

“Kami berharap ada program seperti itu oleh pemerintah mendatang, selain meringankan beban biaya juga memberi motivasi bagi warga lainnya untuk menguliahkan anaknya,” pungkasnya.

Serupa terjadi di Desa Kolong, Kecamatan Ngasem. Di desa wilayah proyek Lapangan Gas Jambaran – Tiung Biru (J-TB) itu, jumlah lulusan tingkat SMA tiap tahunnya hanya sekitar 60 anak.

“Yang masuk kuliah hanya lima persennya saja, itupun dari kalangan orang mampu,” ujar Sekretaris Desa Kolong, Fungky ditemui terpisah.

Selama ini mayoritas warganya hanya petani dan buruh tani. Setelah lulus sekolah jika laki-laki langsung bekerja, sementara yang perempuan memilih menikah.

“Jarang ada orang tua yang menguliahkan anaknya, salah satunya karena biaya dan pemikiran kuno,” imbuhnya.

Diakui, jika pendidikan tinggi di zaman modern sekarang ini sangat penting. Karena rata-rata perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan menyertakan syarat minimal sarjana atau S1.

“Kalau cuma lulusan SMA paling mentok ya buruh kasar. Jadi sangat penting kuliah itu,” ucapnya.

Baik Pemdes maupun pihak sekolah terkendala dengan pemikiran warga yang menganggap kuliah hanya menghabiskan biaya saja. Oleh sebab itu, pihaknya sangat mendukung jika ada program satu desa satu sarjana dari Pemkab mendatang.

“Ya sangat setuju, selain memberikan beasiswa juga ada sosialisasi terkait pentingnya bangku kuliah,” lanjutnya.

Baik Supriadi maupun Fungky berharap Pemkab Bojonegoro mendatang bisa meningkatkan pendidikan bagi warganya melalui program beasiswa untuk kuliah. Sehingga bisa memperbaiki kualitas hidup dan mendapatkan pekerjaan layak.

Dimintai tanggapannya, salah satu Calon Bupati (Cabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menyatakan, kedepan telah menyiapkan program satu desa satu sarjana melalui beasiswa penuh untuk meningkatkan tenaga kerja terdidik di tingkat desa.

“Dengan pendidikan tinggi anak-anak kita nanti akan memiliki daya saing, dan bisa meningkatkan kualitas hidupnya,” tegas Pak Mul, sapaan akrab Soehadi Moeljono.

Diharapkan, melalui program ini sumber daya manusia (SDM) mayarakat Bojonegoro kedepannya akan meningkat. Sehingga dapat mendukung pembangunan Bojonegoro yang lebih tangguh.

“Mereka nantinya bisa ambil bagian memajukan desanya. Jika semua desa maju, akan membawa kemajuan Bojonegoro juga,” pungkas Cabup yang berpasangan dengan Kader NU, Mitroatin ini. (*/red)