Pak Mul-Bu Mit Siapkan Program Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Pogram satu desa satu sarjana melalui pemberian beasiswa pendidikan full tuition (biaya penuh) bagi warga usia belajar yang dipersiapkan pasangan Calon Bupati (Cabup), Soehadi Moeljono, dan Calon Wakil Bupati (Cawabup), Mitroatin, disambut positif warga.

“Kita desain program ini kedepannya bisa memotivasi warga untuk lebih peduli lagi terhadap pendidikan. Sekaligus untuk pemerataan SDM sesuai kebutuhan pembangunan di desa,” kata Soehadi Moeljono kepada wartawan di satu kesempatan.

Sedangkan sejumlah warga desa yang diwawancarai menilai, program tersebut dapat meringkan beban orang tua, dan sekaligus dapat meningkatkan sumber daya manusia (SDM) khususnya di tingkat pedesaan. Oleh sebab itu, program tersebut menjadi harapan baru bagi warga desa.

Sesuai jadwal Ujian Nasional tingkat SMA sederajat yang akan diselenggarakan pada April 2018 mendatang. Ujian ini menjadi momen terakhir bagi anak ketiga Katemi, assl Desa Bubulan, Kecamatan Bubulan. Anaknya, Syahputra, sekarang ini duduk di bangku kelas XII SMA Negeri 1 Bubulan.

Katemi pernah memiliki cita-cita mengkuliahkan anaknya setamat SMA. Namun dengan pekerjaannya sebagai buruh tani, dia kembali mengubur dalam-dalam harapannya.

“Bisa sekolah sampai tingkat SMA saja sudah bagus. Dua kakaknya dulu hanya tamat SMP,” ujar wanita berusia 65 tahun itu kepada wartawan, Kamis (29/3/2018).

Rencananya setelah tamat sekolah, Syahputra akan bekerja di luar daerah mengikuti jejak kakak pertamanya.

“Kerja serabutan ikut orang di Bekasi, diajak kakaknya yang pertama,” imbuhnya dalam bahasa Jawa.

Katemi sangat paham jika menguliahkan anak butuh biaya. Selain untuk membayar biaya kuliah, juga biaya hidup seperti makan, dan kost.

Sedangkan selama ini Katemi hanya membantu suaminya yang bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya hanya cukup untuk memwnuhi kebutuhan sehari-hari.

“Anak saya kedua kan perempuan dan sudah menikah, jadi penghasilan ya cukup untuk suami dan si bungsu,” tandasnya.

Karena itu, wanita berkulit legam itu mengaku sangat setuju jika ada program beasiswa untuk kuliag dari Pemkab Bojonegoro, supaya ada peningkatan pendidikan bagi keluarga pedesaan seperti dirinya.

“Biar nanti hidup mereka tidak susah seperti kami,” ujar wanita yang sebagian rambutnya memutih ini.

Senada disampaikan, Ratmi, warga Desa Kolong, Kecamatan Ngasem. Wanita berusia 55 tahun ini mengaku, belum memiliki angan-angan untuk melanjutkan pendidikan anaknya, Umi Hani’in, ke perguruan tinggi. Sekarang ini anaknya masih duduk di bangku kelas II SMA PGRI Ngasem.

“Kok mikir kuliah, untuk biaya hidup saja sudah ngoyo,” sambung dia pesimis.

Wanita yang kesehariannya berladang ini, sebenarnya berharap anak-anaknya bisa sekolah tinggi dan menjadi orang pintar. Agar mudah mendapat pekerjaan dan mengangkat derajat kedua orang tuanya yang hanya bekerja sebagai petani.

“Ya maunya sekolah tinggi, biar pintar. Tapi uangnya yang tidak ada,” ucapnya.

Setiap harinya, suaminya, Karno (55), hanya mendapat upah Rp25.000 sampai Rp30.000 dari menggarap sawah atau ladang milik orang lain. Sementara dirinya tidak bisa membantu setiap hari.

“Kalau badan sudah sakit semua, ya di rumah saja. Penghasilan hanya dari suami,” tuturnya.

Untuk itu, dirinya sangat mendukung jika ada program beasiswa untuk kuliah dari Pemkab. Karena bisa meringankan beban orang tua, dan menambah semangat untuk bekerja.

“Pasti kami akan terbantu, dengan beasiswa itu anak bisa melanjutkan kuliah. Sementara biaya hidup, bisa dicari-carikan, yang penting niatnya dulu,” imbuhnya.

Baik Katemi maupun Ratmi berharap Bupati Bojonegoro terpilih mendatang bisa memberi beasiswa untuk anak-anak tidak mampu. Agar pendidikan anak-anak pelosok pinggiran hutan bisa meningkat.

“Karena di sini masih jarang yang bisa sampai kuliah,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan telah menyiapkan program satu desa satu sarjana. Dalam program ini, lanjut Pak Mul, sapaan akrab Soehadi Moeljono, mereka akan mendapat biaya penuh sampai lulus kuliah.

“Nanti semua biaya akan ditanggung Pemkab,” tegas mantan Sekda Bojonegoro itu.

Dengan pendidikan tinggi yang dimiliki genarasi Bojonegoro nantinya, menurut Pak Mul, akan meningkatkan daya saing mereka dalam persaingan bursa kerja yang kian ketat.

“Ini salah satu upaya kita untuk meningkatkan ketersediaan tenaga kerja terdidik di tingkat desa,” pungkas Cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini. (*/red)