Disiapkan Program Peningkatan Kesejahteraan Bidan Honorer

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Peran tenaga medis Bidan dan Perawat dalam membangun kesehatan masyarakat tak perlu lagi dipertanyakan. Terlebih mereka yang bertugas di fasilitas kesehatan wilayah terpencil dengan segala keterbatasannya.

Tak sedikit dari mereka yang tersebar di 431 desa/kelurahan dari 28 kecamatan, berstatus tenaga honorer alias Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Pemkab Bojonegoro.

Bidan honorer asal Bojonegoro, Lestari (35), mengaku sudah menjadi Bidan PTT sejak 15 tahun silam. Sampai kini belum ada kabar kapan diangkat menjadi PNS.

“Kalau dibanding dengan Bidan yang ikut pusat, baru dua tahun sudah jadi PNS,” imbuhnya.

Tugas dan tanggung jawab pekerjaan selama ini belum sebanding dengan gaji Rp 1.950.000 setiap bulan. Tugas pokoknya menangani masalah kesehatan ibu dan bayi atau anak, pertolongan persalinan, pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, dan pelayanan kesehatan lainnya.

“Kalau ada yang menawarkan peningkatan kesejahteraan bagi Bidan PTT ya sangat setuju sekali,” tandas Lestari.

Dia berharap kepada Bupati Bojonegoro terpilih nanti, bisa merubah nasib Bidan PTT yang sudah berjuang belasan tahun.

“Saya sangat berharap Bupati baru nanti bisa mengangkat Bidan PTT menjadi CPNS,” tukasnya.

Sementara, Dian Nuritasari, mengaku, telah menjadi PTT selama 10 tahun, dan baru beberapa tahun terakhir dipindahtugaskan di wilayah terisolir di Kecamatan Sekar.

“Di Kecamatan Sekar, ada dusun yang akses jalannya sangat sulit dijangkau,” ujarnya.

Menuju desa tersebut, Dian, sapaan akrabnya menggunakan sepeda motor, atau dibonceng warga setempat. Jika waktu kemarau, jalan setapak masih mudah dilalui, tapi saat musim hujan kondisinya eperti sekarang ini licin dan berbatu.

“Kadang kalau ada pasien yang tidak bisa duduk harus ditandu, dan saya mengikuti dari belakang,” ujarnya.

Dengan honor sebesar Rp 2.250.000 per bulan Dian ihlas melakuloninya. Dia berharap ada kenaikan gaji agar seimbang dengan kinerja di daerah terisolir.

“Kalau secara pribadi, pendapatan ya kurang tapi tetap diterima dengan ihlas. Harapan saya bisa diangkat CPNS,” tandasnya.

Ibu dua anak ini berharap, Bupati terpilih mendatang lebih memperhatikan Bidan PTT yang ditugaskan di wilayah terisolir seperti dirinya. Karena, dibandingkan dengan Bidang PTT lainnya, pekerjaan yang dilakukan cukup berat dan melelahkan.

“Saya berharap, ada peningkatan kesejahteraan bagi Bidan PTT di daerah seperti saya,” tandasnya.

Data di Dinas Kesehatan Bojonegoro menyebut, jumlah perawat Ponkendes PTT sebanyak 27 orang, kriteria biasa 28 orang. Sementara perawat PTT sebanyak 190 orang, dokter gigi 17 orang, dan dokter umum 29 orang.

Jumlah gaji yang diterima Bidan PTT kriteria biasa setiap bulannya sebesar Rp 1.950.000, kriteria terisolir sebesar Rp 2.250.000, dan perawat sebesar Rp 1.950.000.

“Dana tersebut diambilkan dari APBD,” kata Humas Dinas Kesehatan Bojonegoro, Suharto.

Dimintai tanggapannya, salah satu Calon Bupati (Cabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menyatakan, kedepan akan meningkatkan kesejahteraan para tenaga PTT kesehatan agar kinerja mereka bisa lebih maksimal lagi dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Selain itu, lanjut Pak Mul, sapaan akrab Soehadi Moeljono, kedepan juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negaran dan Reformasi Birokasi (KemenPAN-RB) untuk mengupayakan mereka diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil.

“Sampai saat ini tenaga medis di Bojonegoro masih kurang, dan sudah selayaknya mereka diangkat sebagai PNS karena tugas, dan tanggung jawab mereka selama ini cukup berat,” pungkas cabup yang berpasangan dengan Kader NU, Mitroatin. (yud/red)