Beginilah Cara Mahasiswa KKN IAI Sunan Giri Berbagi Ilmu

oleh
Reporter : Wahyudi

SuaraBojonegoro.com – Menjelang penutupan, Mahasiswa KKN IAI Sunan Giri Bojonegoro bertempat di Desa Panunggalan, Kecamatan Sugihwaras menggelar praktik pembuatan kurma Jawa dan teh raja (rambut jagung) di balai desa setempat, Selasa (20/02/18).

Praktik pembuatan kurma Jawa dan teh Raja, merupakan program unggulan mereka (Mahasiswa KKN, red). Sedangkan penutupan KKN kurang tujuh hari.

Kurma jawa adalah kurma tanpa biji yang dibuat dari bahan tomat. Sedangkan, teh RaJa merupakan teh berwarna kuning kecoklatan terbuat dari rambut jagung paling muda yang memiliki warna hijau kekuningan.

Acara tersebut, dihadiri kurang lebih 60 warga. Terdiri dari ibu-ibu PKK, muslimat, bapak-bapak, serta perangkat desa.

Shering penanganan anak, serta pelatihan motivasi, bersama Siti Sholehah, aktivis parenting dari Surabaya, menjadi rangkaian pertama agenda tersebut.

Bunda leha, sapaannya menyampaikan, motivasi itu bertujuan untuk menggugah kembali ghiroh semangat warga dalam kehidupan sehari-hari, terutama menyangkut kelangsungan pendidikan serta kemajuan pengetahuan anak di zaman millenial.

“Orang tua yang cerdas pasti dapat mengembangkan kreativitas dan keahlian pada diri anak, metode alternatif yang tepat dan cocok harus dilakukan secara bertahap,” tutur bunda Leha.

Setelah pelatihan usai, moderator mengarahkan warga ke tempat yang sudah disediakan Mahasiswa KKN untuk membuat kurama Jawa dan teh RaJa.

Dalam kegiatan ini, para warga sangat antusias bergerombol menyaksikan praktik langsung oleh Mahasiswa KKN IAI Sunan Giri Bojonegoro. Beberapa dari mereka terlihat aktif mencoba cara pembuatan kurma jawa dari awal hingga selesai.

Kordes (Koordinator Desa) KKN Desa Panunggalan, Achmad Muttaqin mengatakan, bahwa kurma ini selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,  juga menjadi bahan pengembangan kreativitas untuk mengolah tomat melimpah yang sering terbuang setahun sekali saat panen.

“Pemanfaatan tomat-tomat ini, termasuk pencegahan hasil panen setahun sekali di Desa Panunggalan, yang melimpah ruah sampai tidak terjual, sehingga busuk dan warga mengalami kerugian,” pungkasnya. (yud/red)